Di suatu kota yang terik, seorang anak berusia sekitar sepuluh tahun merangkul keranjang kue duduk bersandar di emperan toko. Duduk tersungkur di sana, kaki kecilnya terlihat memakai sepatu lusuh yang sudah berlobang. Peluh bercucuran dari rambutnya, membasahi wajahnya yang kelelahan setelah keliling menjajakan kue buatan Ibunya. Bajunya pun dibasahi keringat, sekali-kali dia menunduk lesu memandang kue yang masih banyak tersisa, tatapannya seperti lirih bertanya "harus jual kemana lagi?". Sekecil itu, sudah memanggul beban dunia orang dewasa.
5. Kenali Sedih, Temukan Pelipurnya
![]() |
| Sumber: Pexels |
Bukankah pemandangan awam di atas ada di sekitar kita? Sangat dekat di depan mata, seolah membiasakan siapapun yang melihatnya. Bentuk syukur anak itu mungkin sederhana; dia pasti tersenyum saat semua kue laku terjual, dan dapat membawa uang ke Ibunya.
Kita memiliki wujud syukur yang berbeda satu sama lain, terutama antara anak-anak dan dewasa.
Aku senang melihat bagaimana anak-anak bisa dengan mudahnya tertarik pada sesuatu, dan sangat sederhana merasakan riang gembira. Hidup harusnya bisa tetap sesederhana itu; hanya melihat ke dalam diri, dan tidak membandingkan dengan orang lain. Bagiku, tiga hal yang paling kusyukuri:
Kesehatan
Segala kenikmatan dunia itu tak ada maknanya saat tubuh dan pikiran tidak sehat. Beberapa bulan lalu, aku pernah kehilangan pendengaran hingga 90%. Suara Adzan dari Surau di samping rumah pun tak kedengaran; aku hanya bisa mendengar 10-20% bunyi dari volume hp yang disetel 100%. Lebih dari sepuluh hari, aku hidup dalam sunyi. Setelah sembuh, nikmat mendengarkan Adzan itu tak ada gantinya. Saat sehat, rukuk dan sujud itu sungguhlah nikmat; kenikmatan yang tidak dirasakan saat sholat duduk atau terbaring.
Kesehatan itu segala-galanya; mencerna dan berpikir hanya mungkin saat tubuh bugar.
Yang kumiliki dan tak kumiliki
Keadaan memiliki dan tidak memiliki menjadi cobaan bagi siapapun; bersyukur dalam segala keadaan pun demikian. Kita mungkin tak bisa melihat makna di setiap kejadian secara langsung, akan tetapi hikmah selalu ada. Saat senang atau sakit, saat dalam keadaan memiliki ataupun tidak, cukupkan dengan syukur. Memiliki tempat untuk pulang dan beristirahat sesudah lelah bekerja memberikan perasaan lega kepadaku. Untukku, berbaring di kasur sudah bisa menjadi penghilang penat. Keluarga kami memang tidak atau belum lengkap; melihat Bapak tersenyum sudah menenangkan, menemani keponakan bermain juga sudah menjadi pelipur lara. Alhamdulillah ala kulli hal 'Segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan’.
Setiap pertemuan
Kebahagian sederhana terletak pada setiap pertemuan. Aku bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang selalu mengajakku belajar mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Pada setiap pertemuan, aku menemukan diri yang baru, seperti pertemuanku dengan keluarga ODOP.
Wujud syukur itu beragam, sangat bergantung pada siapa yang menafsirkan. Interpretasi pun sifatnya terbuka, tak akan seragam antara satu dengan lainnya.
BACA JUGA:
6. Teruntuk Masa Depan5. Kenali Sedih, Temukan Pelipurnya

Kunci bahagia selalu bersyukur dengan semua yang dimiliki..tetap semangat kak
ReplyDeleteMasyaallah, iya kak. Semangat ya kita
DeleteKak Citra aku juga 'yang kumiliki dan tak kumiliki' menjadi refleksi aku kalau sedang tidak bersyukur
ReplyDeleteMencoba sll bersyukur untuk apapun yang dijalani. Thx kak sharingnya.
ReplyDelete