5. Kenali Sedih, Temukan Pelipurnya

'Selama hayat masih di kandung badan', ..... 

Kalau yang hapal lagu kemerdekaan Indonesia, pastilah tau kelanjutan kalimat di atas. Aku mau menambahkan sesuai dengan tema hari ini: segala emosi pasti silih berganti datang. 

Sumber Gambar: Pexels

Seirama dengan perasaan bahagia, sedih pun muncul bukan tanpa sebab. Layaknya matahari yang digantikan bulan, pertanda pergantian hari; begitu pula perasaan. Tak selamanya kesedihan dan kebahagiaan menetap, menandakan kita masih bernafas.

Ahh mendalam sekali bahasan hari ini ya. Izinkan aku melanjutkan.

Manusia itu diciptakan sempurna dengan perasaan dan logika; yang membuatnya kompleks adalah cara kita memandang sesuatu. Setelah kehilangan Mamak tiba-tiba karena kecelakaan, aku tertampar kenyataan. Berbulan-bulan sebelumnya Mamak pernah cerita tentang pertemuannya dengan seorang lelaki bijak keturunan Tionghoa yang berkata: 

"Bu Bu, dalam hidup ini kita nggak punya apa-apa, cuma punya satu hari"

Satu hari dua puluh empat jam, menurutnya itu yang kita miliki. 

Tapi, setelah kehilangan Mamak dalam hitungan menit, bahkan sedetik pun bukan milik kita. Semuanya ini titipan, bahkan raga ini sekalipun. Jangankan kekayaan, emosi yang datang silih berganti pun layaknya iklan yang mengisi program televisi. Bedanya, tokoh nyatanya kita.

Jika sedih, jangan biarkan berlarut-larut. Kenali, teliti rasa yang singgah. Cobakan dulu bertanya ke diri sendiri dan mengkaji jawabannya: 

  • Kenapa bisa sedih?
  • Tidurnya cukup? 
  • Makannya gimana? 
  • Tadi ketemu siapa? 
  • Ngomongin apa aja?
  • Apakah kamu salah bicara atau terlalu banyak bicara? 
  • Atau  apakah ada yang tidak menyenangkan di hati?
  • Bagaimana ibadahmu?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sebagai bagian kontemplasi (n renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh), yang memampukan kita untuk lebih mencintai diri sendiri. 

Terkesan egois ya, tapi siapa lagi yang bisa mencintai diri kita selain kita sendiri. Kita pun bisa memberikan lebih ke orang lain ketika kita sudah merasa cukup dengan diri sendiri. Kontemplasi tidak semudah teori, dan tak selalu menyenangkan karena harus terima yang pahit. Seringkali aku pun tersadar ternyata asalnya dari diri sendiri. Kontemplasi butuh kesadaran penuh, keberanian melawan ego. Sebagai manusia dengan sifat hati yang selalu berubah-ubah, aku sadar kalau aku tak selalu bisa berkontemplasi.

Kalau tak bisa, aku beri jatah pada badan untuk istirahat dari segala keruwetan. Tidur yang berkualitas di malam hari jadi cara awal atasi sedih. Setelah cukup menghimpun tenaga, badan baru bisa bekerja menerima logika, dan menemukan pelipur.

Perasaan sedih itu letaknya di hati, sifatnya subjektif; perlu logika yang objektif. Kalau tak mampu mengkaji sendiri, aku biasanya bercerita dan bertanya pendapat PakSu yang lebih objektif. Kenapa? kadang kita perlu melihat satu hal dari kacamata yang berbeda, bukan kacamata kuda.  

Menyibukkan diri dengan journaling juga jadi cara ampuh buatku. Intinya, sibukkan diri, sehingga tak terlalu memikirkan yang berat. Toh pada waktunya, perasaan itu berlalu. 

Sholat, seletih apapun, obatnya jiwa ada pada sujud yang panjang. 

Menangis saat beban di dada terasa sangaaat berat. Bagiku, yang paling berat itu merindukan Mamak yang sudah meninggal. Setua apapun, seseorang itu seperti bocah kecil saat kehilangan orang tua. Sedihnya menyayat di hati saat merindukan pelukannya, atau sekedar lihat anak dan ibunya. Di tahun ketiga kehilangan, mungkin tak lagi sesenggukan; air mata malah bisa menetes dengan mudahnya. 

Ahhh, panjang ya. Kira-kira begitulah caraku: mengenali sedih dan menemukan pelipur dengan bertanya dan menjawabnya.

Kalau kalian gimana?


Comments

  1. bagus banget, saya mau coba kalau lagi sedih begini. makasih kak.

    ReplyDelete
  2. Aku juga kehilangan mamak baru dua tahun yg lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Al Fatihah untuk Mamaknya Mbak Ning.. Peluk dari jauh

      Delete
  3. Rasanya aku ingin peluk kakak. makasih artikelnya ka

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. puk-puk-puk, semoga sedihnya singgah sebentar aja ya kak.

      Delete
  5. Sedih banget ditinggal org tua.. Peluk jauh kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak, sediiih. makasih ya, your words mean a lot.

      Delete
  6. Kakak, aku juga kehilangan salah satu orang tuaku karena kecelakaan. Sekarang, sudah berlalu 11 tahun. Ah, rasanya waktu cepat sekali berlalu, ya. Tak peduli selama apapun telah berlalunya kejadian, ketika teringat dan diingat, pasti selalu ada kesedihan yang terselip.
    Semoga Allah mengangkat derajatnya dengan istighfar yang kita panjatkan untuknya. Rabb, pertemukan kembali kami dengan orang tua kami kelak di surga-Mu. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya rabbal alamin. Hanya itulah pelipur kita ya kak saat sedih, ingin dikumpulkan kembali. Peluk erat dari jauh, Kak

      Delete
  7. Terimakasih tipsnya bagus, kak. Debgan bertanya kepada diri sendiri untuk mengetahui sumber yang membuat sedih

    ReplyDelete
  8. Sujud mengadu menangis sama Allah. Peluk erat kakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Asri, itulah puncak melepaskan kepada Allah. Makasih kak

      Delete
  9. jadi pengen menjawab pertanyaan itu pada diriku sendiri

    ReplyDelete

Post a Comment