9. Ikhtiar Horizontal dan Vertikal


Kesehatan mental menjadi isu publik saat ini, apalagi isu tersebut dianggap sebagai pemicu meluapnya kasus bunuh diri. Tantangan para tenaga pendidik saat ini bukan lagi tentang materi yang tersampaikan dapat dipahami, melainkan tentang kesiapan mental generasi muda menghadapi kehidupan. Sebagai pengajar yang banyak berhubungan dengan Generasi-Z, aku pun harus membekali diri dengan isu ini. Harapannya, aku setidaknya dapat mengarahkan anak muda yang menghadapi masalah serupa.

Siapa sih yang mau mengalami gangguan kesehatan mental? 

Jawabannya TIDAK ADA seorangpun yang mau. Sayangnya, sebagian besar orang mungkin masih mengaitkan ini dengan kapasitas penderita dalam menghadapi masalah hidup. Hanya sedikit yang benar-benar memahami beragam gangguan kesehatan mental dan faktor yang dapat memicunya. Tak banyak orang yang memahami bahwa orang-orang dengan gangguan kesehatan mental harus selalu didukung oleh keluarga, orang terdekat, dan tenaga ahli.

Sumber: Pexels


Aku bukan ahli kejiwaan, aku hanya pendengar. Aku pun pernah berjuang dengan masalah inner-child. Kali ini, ijinkan aku merangkum pengamatan dan hasil bacaanku. Menurutku, perpaduan ikhtiar horizontal dan vertikal tidak hanya menjadi kunci jawaban untuk mencapai impian; upaya-upaya ini juga bisa menjadi tips mengatasi gangguan kesehatan mental. 

IKHTIAR HORIZONTAL

Sesudah kesulitan, ada kemudahan. Tugas kita adalah berupaya mencari solusi dan jawaban yang tidak langsung tersurat. Ikhtiar horizontal berkaitan dengan diri sendiri, dan orang lain.

Mencari bantuan

Jangan sungkan mencari solusi  melalui orang lain saat diri kita sudah tidak bisa mencerna keadaan. Saat orang sekitar pun tidak bisa memahami dengan baik keadaan kita, upayakan menghubungi tenaga profesional untuk membicarakan sampah-sampah emosi yang menumpuk. Ingatlah bahwa kita manusia dengan dinamika yang naik turun seperti roller coaster; tak perlu sungkan berhubungan dengan psikolog atau psikiater. Itu artinya kamu mencintai dan menolong diri sendiri; jika orang lain aja bisa ditolong, kamu pun pasti bisa menolong diri sendiri.

Dengarkan diri sendiri

Kita terbiasa mendengar orang lain berbicara, tapi kadang tidak mendengarkan diri sendiri. Kita mengabaikan sinyal-sinyal yang dikirim badan, dan mengeksploitasi diri sendiri untuk kesenangan orang lain. Prioritaskan diri sendiri: berani katakan TIDAK saat kamu tidak siap membantu, tutup telinga pada opini orang lain yang menyakitkan hati. Nasihat dan masukan orang lain itu pertanda kasih sayang; berguna saat kita siap mendengar. Ingatlah bahwa kamu berharga.

Memaafkan keadaan

Setiap manusia dengan traumanya masing-masing. Kita tidak mempunyai mesin waktu yang memampukan kita kembali ke masa lalu. Kita tidak bisa mengulang waktu; kita hanya bisa menerima keadaan yang terlewat. Penyesalan dan kemarahan bisa perlahan-lahan menenggelamkan jika tidak dikelola dengan baik; anggap saja emosi negatif sebagai 'bensin' untuk memperbaiki diri.  

Membangun kebiasaan baru

Ubah pola pikir dan kebiasaan yang menyakitkan, ganti dengan sesuatu yang menyegarkan pikiran. Istirahat dan bekerja sesuai dengan jam biologis tubuh, berikan asupan yang cukup pada tubuh. Nikmati prosesnya, setiap perubahan butuh waktu yang tak sedikit. Bantu dirimu untuk disiplin; catat kebiasaan baru dan lihat bagaimana kamu mulai berubah. 

Puasa sosial media

Sosial media seringkali menjadi 'racun' yang perlahan-lahan mempengaruhi perspektif kita. Jika kita terlalu mudah menilai postingan orang lain tentang kesedihan atau kebahagiaan, menelan mentah-mentah berita media massa tentang isu-isu kontroversial, maka istirahatlah sejenak dari sosial media. Berpuasalah bermain internet selama seminggu, dan ciptakan keterikatan diri dengan alam. Jalan pagi menyerap hangatnya sinar matahari pagi, menikmati pepohonan dan lembutnya angin pagi bisa memberikan energi yang positif. 

Saat sudah siap kembali bermedia sosial, beranggapanlah yang baik, belajarlah Tabayyun (memeriksa ulang berita), dan yang paling penting berhentilah membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain karena sangat tidak apple to apple.

IKHTIAR VERTIKAL

Tak lengkap rasanya bila upaya horizontal tak diiringi dengan upaya vertikal. Kita hanyalah manusia yang lemah, yang hatinya sering terbolak balik, mana mungkin kita kuat menjalani kehidupan tanpa fasilitas dan petunjuk Sang Maha Kuasa. Aku pun bukan orang yang suci dari dosa, aku mengupayakan ikhtiar vertikal karena ingin menjadi versi diri yang lebih baik. Setiap hari melawan diri sendiri untuk menjadi lebih baik, karena toh yang paling sulit itu menaklukkan ego. Jadi ini dia ikhtiar vertikal yang bisa diterapkan: 

Berada di Komunitas sevisi

Teman-teman dan komunitas membentuk perspektif kita; berinteraksi dengan semua kalangan itu baik, tapi upayakan punya satu komunitas yang mengingatkan dan mendekatkanmu pada Tuhanmu. Kalau aku pribadi, mengikuti kelas tahsin, di mana aku belajar tentang cara baca Al Qur'an yang baik. Pertemuan seminggu sekali, meski online, insyaallah cukup menyemangati diri ini yang fakir ilmu.

Memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta

Bagi muslim, Al Quran itu adalah Asy Syifa (penyembuh), obat bagi yang membacanya. Ganti musikmu dengan Murottal, merangsang telinga dan tubuh untuk mendapatkan aura positif Al Quran. Baca satu hingga dua halaman setiap hari, atau sekedar baca terjemahannya di kala istirahat. Biasanya, aku suka buka Mushaf terjemahan, dan melihat ayat apa yang ditunjuk jari; tak jarang hasilnya mengejutkan. Perlahan-lahan perbaiki bacaan sholat, tidak terburu-buru, bangun komunikasi dengan Allah SWT melalui sholat wajib dan sunat, kemudian berbaik sangkalah pada Allah SWT atas setiap kejadian. Sesungguhnya “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya".(QS 2: 286).

Gangguan kesehatan mental bisa terjadi pada siapapun dengan trauma mendalam yang dihadapi saat masih kecil ataupun dewasa. Pemikiran manusia yang kompleks, interaksi sosial yang sangat mengikat menjadi tantangan kita semua dalam berkehidupan. Aku sendiri pun masih belajar memahami kompleksnya interaksi sosial.

Sebagai makhluk sosial, tidak salah bagi kita untuk selalu berupaya. Mari kita siapkan telinga untuk diri kita dan orang lain karena kadang kita hanya ingin didengarkan. Dan, teruslah mengingatkan diri bahwa:

Setiap orang menghadapi 'pertarungannya' masing-masing, cukupkan diri kita dengan berbaik sangka dan memaklumi.


Comments

  1. memperbaiki hubungan dengan sang pencipta adalah salah satu keputusan yang tepat sih

    ReplyDelete
  2. Dsri judulnya aja udh menarik utk dibaca

    ReplyDelete
  3. Ikhtiar horizontal dan vertikal..ilmu baru lagi..tengkyuu kak

    ReplyDelete
  4. Iyes, solat tahajud dan curhat jg solusi

    ReplyDelete
  5. Tapi yang masih di sayangkan kak, kalau orang cari bantuan ke profesional semisal ke RSJ masih di pandang sebelah mata, padahal kan sama sama sakit ya mental illness dan sakit fisik

    ReplyDelete
  6. Kak aku pengen deh puasa sosial media tapi masih belum bisa :(

    ReplyDelete
  7. Materinya sungguh lengkap kak, terima kasih

    ReplyDelete
  8. Thank you kak sharingnya, membantu sekali disaat berhadapan dengan suasana hati aku yang drop.

    ReplyDelete

Post a Comment