"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah"
Terinspirasi
Aku baru menyadari kalau emailku sudah kupakai untuk blogger sejak Agustus 2020, tanpa ada satupun kisah di dalamnya, bahkan dalam bentuk draf. Semua sosial mediaku sepertinya banyak yang hibernasi, sampai aku membaca postingan seorang influencer pendidikan Ida Bagus Mandhara Brasika yang berkata "menulis karya ilmiah memanglah cara Ilmuwan berkomunikasi, tapi tidak ada yang baca". Menurutnya, sains Indonesia tertinggal jauh karena ilmu pengetahuan hanya milik orang tertentu saja. memiliki banyak publikasi, tapi tidak dipahami. Kalau ditilik lebih jauh, pernyataannya Bli Nara benar adanya. Bahasa ilmiah pada publikasi-publikasi mentereng diperuntukan untuk sesama rekan peneliti, berbeda jauh dengan Bahasa tulis bernada lisan.
Selain itu, aku juga terinspirasi seorang teman yang bertahun-tahun aktif di dunia blog menceritakan perspektif, testimoninya, dan rangkuman film atau novel. Kepiawaiannya dalam menulis dan bercerita membuat orang-orang di sekitarnya, termasuk aku, menikmati kisahnya. Dia pun menjadi editor di luar negeri saat ini, meninggalkan dunia pengajaran.
Aku salut dengan teman-teman yang rutin posting tulisan dengan tampilan blog yang menarik mata, dan niche yang mengundang pembaca. Bercerita lewat blog butuh komitmen, mengatur waktu untuk menulis, edit naskah dan kemudian mempublikasikan bukanlah hal yang gampang. Kupikir, mulai berproses saja dulu ngeblog saat ini, hasilnya dalam bentuk kolaborasi atau pekerjaan impian pastinya menyusul kalau sudah terjun.
Digitalisasi Alur Pikir
Bagiku, menulis mendewasakan alur pikir. Bagaimana kita memindahkan ide dalam bentuk tulisan menunjukkan kondisi kognitif kita, sudah runut atau masih melompat-lompat. Kalau beberapa tahun belakangan ini aku terlalu memanjakan diri dengan kemampuan reseptif: membaca dan mendengar. Kemampuan produktifku (menulis dan berbicara) malah stagnan saja rasanya. Kalaupun menulis hanya sebatas di jurnal dan tulisan ilmiah. So, here I am: berjibaku antara jurnal dan digitalisasi tulisanku.
Aku sudah siapkan beberapa blog, yang rencananya digunakan untuk niche yang berbeda-beda. Tapi dengan kemampuan editku yang terbata, dab edit satu blogger ini pun aku masih tertatih, sepertinya aku masih harus lihat progress ke depan apa yang mungkin bisa dilakukan. Sementara ini, aku pengen belajar dulu dari teman-teman ODOP yang bahas edit blog, aku tunggu ya postingan kalian tentang edit blog.

hidup menulis, hidup literasi. Orang2 yang pinter nulis tuh keren abiezzz
ReplyDeletehiduuup menulisss, setujuuu, nyambung aj lagi kl diajak ngobrol.
DeleteTemen temen kenapa pada pinter semua sih, tulisan blog nya membuatku memahami bny hal apalah aku yg cita-citanya cuma nulis cerita horor ihiks
ReplyDeleteMasyaallah Mbak Ning, kita sama-sama belajar ngeblog ya. Semoga kita bisa sekeren Mbak Wulan Kenanga dan teman2 yang lain. Aamiin
DeleteKak jujurly aku suka gaya penulisan Kakak ada vibes sastra tapi bukan yang aku perlu baca berkali-kali untuk mengerti gituuu, semangat blognya Kakk
ReplyDeleteMasyaallah.. Sama-sama belajar kita kak, aku juga senang baca tulisan kakak hotelier.
DeleteMari kita semangat menulis, menuangkan ide di kepala
ReplyDeleteSemangat mbak asri
DeleteWow. Banyak yang bilang tulisan Kakak bagus. Dan, ya! Benar sekali! Sudah kelihatan pro-nya! Kereen, Kak! Sehat selalu, ya!
ReplyDeletePengen banget bisa nulis tentang tutorial ngoding
ReplyDelete