Seorang teman atau saudara yang baik bukan yang menutupi kesalahan, tapi yang tegas menunjukkan kesalahan, menjadi pengingat di kala diriku lalai. Nasihat bisa datang dari mana saja; bisa keluarga, saudara, teman, atau orang yang baru dikenal. Nasihat pun tak selalu diterima dalam keadaan siap. Saat menerima, aku pun tak selalu mengingat kalimatnya secara utuh.
#1 Berbuat baiklah, maklumilah
Almarhumah Mamak, yang sungguh baik hatinya, yang selalu memaklumi dan memaafkan tak pernah lupa menasehati dan mengingatkanku di kala amarahku memuncak pada seseorang, ngomongnya lugas “Long, kamu kan pintar, kuliahnya tinggi, maklumilah orang-orang di sekitarmu, yang pendidikannya tidak setinggimu. Maklumilah, maafkan, berbuat baiklah dengan begitu”.
![]() |
| Taken from Pexels |
Seminggu terakhir di masa hidupnya pun, banyak sekali nasihat, pesan untukku. “Jangan lupa baca Al Quran, tempatkan Al Quran di dekat tempat kamu sholat, jadi mudah menjangkaunya”.
Semoga Allah SWT melapangkan kubur Almarhumah Mamak, dan menempatkannya di surga tertinggiNya. Aamiin Ya Rabbal Alamin
#2 Publikasikan tulisanmu, tunjukkan dirimu
Entah kapan, aku ngobrol panjang dengan teman sekelas di bangku kuliah dulu. Dia yang mengingatkanku untuk menulis dan mempublikasikan tulisanku, bukan saja karena profesi, tapi karena manfaatnya untuk orang lain.
Aku ingat sekali saat itu. Aku bersemangat menulis sejak itu. Pesannya pun jadi pengingat hingga sekarang.
#3 Kejarlah dulu Akhiratmu, dunia kan kau dapatkan
Seorang teman mengingatkanku tentang Akhirat dan Dunia. Dia juga bilang “seseorang nggak sungguh-sungguh dengan mimpinya, kalau dia tidak bangun hubungan dengan Allah SWT lewat Tahajud dan sholatnya”.
#4 Jangan muluk-muluk, kita dikejar target
Aku konsultasi dengan seorang teman yang bijak, yang langkahnya jauh di atas upayaku. Nasihatnya itu “makkknyes”, kaya bilang ‘udah, apa yang bisa aja, jangan muluk-muluk'.
Untuk nasihat ini, kan kuceritakan lengkap bila waktunya tiba ya.
#5 Nasihat Ali bin Abi Thalib
Semakin menua, aku hanya ingin hidup dengan damai. Tak banyak drama, dan cukup pikirkan bagaimana aku berkembang. Kalau mengingat usia 20an, aku terlalu kaku, sensitif, pengen tahu dan terlibat. Banyak sekali kata-kata mutiara Ali bin Abi Thalib yang menjadi nasihat untukku menjadi dewasa. Salah satunya:
Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak membutuhkan itu, dan yang membencimu tidak mempercayai itu. – Ali bin Abi Thalib
------
Nasihat bisa saja datang acak tanpa diduga, tanpa diharap. Di kala kita siap ataupun tidak. Seseorang yang sangat dekat berkata “anggaplah omongan orang yang tidak kau sukai sebagai pengingat, dahulukan khusnudzon” pada ku yang tersinggung dengan omongan orang lain. Lanjutnya “kita tidak tahu bagaimana dia bisa berkata seperti itu, mungkin saja dia perantara Allah untuk mengingatkanmu”.
Akan tetapi, tidak semua orang berpikiran terbuka menerima nasihat. Aku pernah memberikan nasihat pada sepupu yang kuanggap adik kandung, sangat dekat sebenarnya. Nasihat itu pun kupikir berhari-hari cara menyampaikannya, apa perlu kusampaikan atau tidak. Akhirnya, setelah disampaikan, orangnya memblokirku. Lucunya, aku tau diblokir secara tak sengaja. Awalnya heran bertanya kenapa, tapi ya sudah mungkin orangnya pun sedang berdamai dengan dirinya sendiri.
Dari proses ini pun aku belajar untuk menjaga setiap kata yang keluar, sempatkan bertanya dulu “mau nerima masukan nggak”, atau “boleh kasih masukan?”.
Tak bisa balik ke masa lalu, menghapus yang sudah terlanjur terucap; hanya bisa berdoa. Semoga orang-orang yang salah mengartikan bahasaku dibukakan pintu hatinya untuk memaafkanku, dan dengan lapang dada menerima kata apapun dariku yang sempat terucap. Aamiin

Comments
Post a Comment