Aku tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang pengajar di masa-masa kuliahku. Yang aku tahu, aku akan push my limit to things I do. Sedari kecil aku sudah tahu aku mau menjadi apa, akan tetapi cita-cita itu bergeser mengikuti arahan dan ridho orang tua. Layaknya anak-anak yang ditanya cita-citanya apa; aku pun begitu, berubah sesuai haluan. Berbagai pengalaman kerja pun telah membentuk pola pikirku; kini bukan soal apa yang tidak bisa digapai, tapi tentang apa hal terbaik yang bisa dilakukan untuk diriku dan orang lain.
Dapat dikatakan aku punya tiga pekerjaan impian: pertama dari tuntutan profesi, yang kedua berasal dari kesukaan, dan yang ketiga untuk orang lain. Menurutku, sangat disayangkan jika hanya fokus pada satu impian sedangkan kita hanya memiliki sedikit waktu. Jika bisa membaginya menurut timeline, kenapa tidak?
Impian Pertama
Jika menengok keinginanku semasa muda, aku sangat ingin menjadi Jurnalis yang bisa bercerita lewat kata tentang perjalanan keliling dunia. Keinginan itu berganti nama, saat ini aku adalah tenaga pendidik di sebuah kampus swasta. Dengan profesi ini, memegang titel Guru Besar suatu saat mungkin menjadi impian jangka panjang. Tapi, aku tak ingin terlalu ngoyo mengejar pangkat tertinggi dalam profesi ini yang butuh rencana dan pilihan panjang setelah rampung studi doktor. Aku paham betul bahwa seseorang dengan impian guru besar harus sudah merencanakan rencana jangka pendek dan panjang yang bisa hasilkan publikasi di Scopus Q1, Q2 dan Quartil lainnya yang tidak sedikit, dan berbagai kolaborasi ilmiah melalui penelitian post-doctoral atau kerjasama yang butuh dukungan penuh kampus. Sedangkan jika berbicara realitas waktu, aku merasa segala sesuatu itu cepat sekali berlalu. Realita ini jelas terasa setelah kepergian Mamak; rasanya baru kemarin aku mendengar berita kecelakaan Mamak, dan ternyata sekarang sudah tiga tahun Mamak meninggal. Dengan pengalaman itu, aku ingin bekerja keras untuk mencapai pangkat tersebut tapi aku lebih ingin memastikan aku punya cukup waktu dengan orang-orang terkasih.
Impian Kedua
Menjadi Penulis adalah pekerjaan yang ku impi-impikan. Sejak duduk di bangku sekolah, aku sudah terbiasa menulis puisi dan cerita pendek. Namun, impian ini mati suri diterjang kebutuhan hidup. Aku terlalu banyak menghabiskan waktu mengumpulkan cuan, melupakan yang benar-benar kubutuhkan. Menulis itu sebuah proses pendewasaan alur pikir; jika tak diasah, kualitasnya dan kecepatannya pun berkurang. Seperti apa yang kualami hari ini, lebih dari enam jam untuk 300 kata; seperti pisau yang tumpul, aku kesulitan merangkai frasa menjadi kalimat. Dalam setahun kedepan, aku ingin menghasilkan setidaknya tiga cerpen, dan satu novel fiksi. Aku tak sabar ingin menuliskan kisah fiksi yang sudah terpendam lama, yang menunggu untuk direalisasikan. Proyek pribadi ini insyaallah akan aku mulai setelah urusan persiapan kuliahku selesai. Doakan aku bisa segera mendapatkan Letter of Acceptance dari kampus luar negeri dan mengurus Persiapan Keberangkatan LPDP ya teman-teman, dan aku akan berbagi tentang cerita-cerita itu.
Impian sisipan
Sebagai pengajar, aku juga sadar bahwa aku tidak bisa membuat semua orang paham 100% dengan materi yang aku sampaikan karena interpretasi dan tingkat pemahaman orang yang beragam. Tapi setidaknya aku dapat menyentuh satu-dua orang untuk mencintai Bahasa seperti aku jatuh cinta dengan teori-teori kebahasaan. Aku ingin setiap hal yang aku lakukan memberikan manfaat, meski hanya pada segelintir orang. Impian sisipanku adalah menjadi Onti siap siaga. Mungkin saat ini yang bisa aku lakukan adalah dengan menjadi contoh, seperti yang pernah Almarhumah Mamak tunjukkan padaku saat SMP: Mamak lanjut sekolah S1 di masa anak-anak masih kecil dan usia yang tak muda lagi. Contoh ini kuaplikasikan ketika menjawab pertanyaan panelis pada wawancara LPDP tahun lalu; mereka bertanya "kenapa memilih melanjutkan kuliah S3 di Luar Negeri?", dan jawabanku adalah aku ingin dua belas keponakanku dan keluargaku melihat perempuan di usia yang tidak muda berasal dari satu kota kecil di Kalimantan Barat bisa mengejar impiannya.
Saat menuliskan impian, aku memetakan kembali capaian apa yang sudah kubuat untukku dan orang lain, apakah aku sudah berada di jalur yang tepat atau melenceng. Aku bersyukur bisa ikut program ODOP yang menggiringku kembali ke arah di mana aku memulai semuanya. Menuliskan tiga impian ini juga menjadi afirmasi positif, semoga semesta mendukung.
Semangat, kakak. Semoga segera dapat LoA yaa, kak. Ahh, aku jadi pingin nyusul kan
ReplyDeleteAamiin.. terima kasih Mbak Asri. Semoga Mbak Asri segera nyusul ya, nanti kita bisa ngopi2 cantik di luar.
Deletemulia sekali cita2nya menjadi seorang pengajar
ReplyDeleteMasyaallah, ini supaya ilmunya ga tergerus usia aj kok Mbak.
Deletewow keren kak, bisa lanjut ke S3,, semoga ilmu nya bermanfaat untuk sesama.
ReplyDeleteMasyaallah, Aamiin. Semoga Mbak Eka juga demikian ya, melalui tulisan-tulisannya.
DeleteSemangat kak semoga bisa lanjut S3
ReplyDelete