Dalam hidup, setiap orang memiliki berbagai impian akan sesuatu yang sangat diinginkan, yang ditentukan dalam keadaan sadar. Hal ini yang membedakan impian dan mimpi; impian adalah hasil dari rencana dan kerja keras, sedangkan mimpi adalah angan-angan yang dialami saat tertidur.
![]() |
| Taken from Pexels |
Saat menggantungkan impianku akan masa depan, aku menyandarkan keinginanku pada hal-hal yang bisa diupayakan dalam waktu singkat atau lama. Aku membagi impian jangka pendek dan jangka panjang, yang terbagi dalam jarak satu tahun dan lima tahun. Mungkin karena MBTI INFJ, mengkategorikanku sebagai perencana ulung, atau mungkin durasi menurutku adalah cara yang paling mudah. Jika merujuk pada jangka waktu tersebut, aku memiliki lebih dari satu impian. Dalam postingan kali ini, aku ingin berbagi tentang impian yang terpendam, yang menariknya tidak tercakup dalam jangka pendek atau jangka panjang.
Sejak lama, aku memiliki ide tentang satu karakter, tentang satu motivasi hidup; aku juga membayangkan bagaimana karakter itu menghidupkan plotnya. Sayangnya, ide itu masih ada di awan pikiran, belum tertulis. Publikasi karya fiksi adalah impianku di masa depan, yang tak kurencanakan akan diterbitkan kapan. Mungkin pengaruh Harper Lee berakar kuat di pikiranku.
Pernahkah kalian mendengar nama Harper Lee? Penulis novel klasik Amerika kenamaan dan pemenang Pulitzer atas karyanya To Kill A Mockingbird pada tahun 1961, dan kemudian menerbitkan novel Go Set A Watchman pada tahun 2015, setahun sebelum beliau meninggal pada usia 89 tahun pada 2016. Dengan jarak 55 tahun, Harper Lee menerbitkan dua novel. Aku tidak ingin membandingkannya dengan penulis lainnya; Harper Lee menjadi panutanku sejak lama. Karyanya seolah mengingatkan diriku untuk fokus pada kualitas, bukan kuantitas.
Kalau bicara tulis menulis, aku terbiasa membuat cerita pendek sejak duduk di bangku sekolah. Kemampuan menulis fiksi sepertinya tenggelam sejak aku lebih memilih menulis karya ilmiah. Sejak 2015, aku mulai mempublikasikan karya ilmiah supaya dapat H-Index 3 di Google Scholar. Menulis karya ilmiah sepertinya lebih mudah dikarenakan tuntutan pekerjaan; hal ini mungkin membuat publikasi karya fiksi lebih menantang. Aku terbiasa dengan bahasa akademis yang kaku, deskriptif terkesan tidak menarik. Nada sastra pun lama kelamaan pudar, apalagi jenis bacaanku bukan lagi novel atau bahkan cerpen; setiap hari aku terlalu menyuguhi diri dengan artikel jurnal.
Harapku suatu saat, di masa-masa senggang, di kala waktu sudah menjadi milikku, aku dapat menuliskan ide yang masih terdiam di awang-awang, menyajikannya pada semua orang. Ingin kubagikan cerita ini pada pembaca semua kalangan, inginku mereka terinspirasi seperti aku terinspirasi sejak kecil.

Ga sabar aku melihat karya nya kak citra..
ReplyDeletesegeraaa ya kak.
DeleteDaebak, gak nyangka kak citra nulis karya ilmiah, masya allah tabarakallah
ReplyDeletemasyaallah, tuntutan kak.
Delete