Let’s taking a trip down memory lane.
![]() |
| Taken from pexels. |
Tahun 2023 itu another roller-coaster year buatku. Rasanya nano-nano campur aduk, padahal aku udah lama nggak makan permen nano-nano, apa udah nggak ada lagi ya di pasaran?
Bukan tentang aku saja, tahun ini juga tentang Bapak. Di bulan Januari awal tahun lalu, Bapak yang tinggal sendiri di kota lain jatuh sakit. Aku pun menjemput untuk dibawa ke rumahku. Jarak 7 jam perjalanan kami lalui, Bapak harus dirawat di dekatku, pikirku kala itu.
Postinganku kali ini bukan soal pencapaian dalam bidang akademik tahun 2023, melainkan tentang bagaimana aku menghabiskan waktu dengan Bapak selama kurang lebih enam bulan. Capaian ini lebih penting karena mengantarkanku pada keberhasilan lainnya di tahun 2023. Mencapai sesuatu sendiri itu pun terasa lebih ringan ketimbang ada orang lain yang terlibat, dinamikanya lebih bergelombang.
Sejak awal tahun itu, Bapak tinggal di kota ini. Berobat jalur BPJS ke puskesmas dan RS karena memang penyakit Bapak menjadi prioritas pemerintah. Bukan pertama kali aku mendengar Tuberkulosis, tapi aku tetap terperangah dan khawatir. Ada perasaan marah yang menyeruak karena Bapak masih kembali merokok. Bapak terkena lagi penyakit ini kedua kali, setelah sakit pertama di Jawa dan tidak tuntas pengobatannya.
Enam bulan itu dengan konflik di dalam diri, mencoba memahami pikiran orang tua yang kehilangan istrinya. Hingga pada satu titik aku menerima dengan lapang dada. Seorang anak tugasnya berbakti, terus mendoakan dan mengharapkan rahmat dan hidayah Ilahi untuk terkasih; lalu berbicara mengingatkan jika memang perlu. Aku pun diingatkan bahwa semakin tua seseorang, semakin mencari perhatian dari sekitar, dan hanya ingin bicara dan didengar.
Selama masa pengobatan, aku mengikuti semua aturan kesehatan untuk penderita dan keluarga. Alhamdulillah, Bapak sembuh dan bebas dari obat. Capaian ini jadi kerja sama pertama antara aku dan Bapak, yang tidak dimulai dengan mudah. Di bulan-bulan pertama, kami berselisih dan beradu kata, aku dengan aturan kesehatan, sedangkan Bapak ingin seperti biasanya. Hingga di bulan ke empat, beliau terbiasa dengan makan sendiri di meja makan, menggunakan masker, dan minum obat tepat jam 8 malam.
Merawat orang tua itu tak semudah membesarkan seorang bayi yang menerima apa yang diberikan, atau mungkin tantangannya berbeda; sedikit banyak tentunya berselisih. Tapi itulah hidup kan, pastilah membosankan jika datar saja. Beberapa orang tua yang sudah merasakan pahit manis asam garam tak mudah menerima hal baru. Tugasnya yang muda adalah pandai berkata-kata menemukan celahnya.
Menurutku, orang tua dan anak mereka yang sudah dewasa memiliki gaya bahasa dan komunikasi yang jauh berbeda. Kesenjangan berbahasa saja bisa menyebabkan perbedaan pendapat; selain ingat pesan Mamak “yang muda dan yang pintar ngalah”, sebisa mungkin aku deskripsikan maksudku. Aku pun tak sendiri, PakSu yang masyaallah suportif saat itu mendukung dan menguatkanku untuk sabar.
Setahun lalu, aku baru belajar kembali menjadi anak, bersabar dengan diri dan orang tuaku satu-satunya. Menariknya, saat melihat ulang, aku takjub bagaimana aku bisa menyelesaikan hal-hal lainnya dalam waktu bersamaan, dan juga dapat mencapai hal lainnya yang kuinginkan. Benarlah kata orang-orang bijak, anak mendapat berkah dengan membersamai orang tua, masyaallah.
Buat kamu yang sedang berjuang merawat dan membersamai orang tuamu, semoga Allah SWT selalu menyertai langkahmu, mendekatkanmu kembali dan semakin menguatkan hubunganmu dengan orang tuamu, dan menghadiahimu dengan segala yang terbaik di muka bumi. Aamiin

I learned a lot from your post this time. There aren't many things in this world where a daughter can be close to her father. You are the daughter of a good father. I'm proud of you, kak Citra.
ReplyDeleteThanks for your kind words, it means a lot.
DeleteKnp teman hari ini aq bny menemukan kesamaan dg temen2, peluk dr jauh kak kita berjuang merawat bapak yg sedang sakit.
ReplyDeletePeluk dari jauh kak, semoga Bapak kak Ning lekas sembuh ya kak. Aamiin
DeleteSemoga bapakny cepet sembuh mba.. Insyaallah, sabar alam selalu menyertai org org yang berbakti kepada org tua
ReplyDeleteAlhamdulillah Bapak udah sehat kak, sudah pulang ke rumah dan bersama adik2. Aamiin, semoga hidup kita penuh berkah ya kak.
DeleteSemangat mbak, kebahagiaan yang tak ternilai bisa merawat dan dekat dengan orang tua.
ReplyDeleteMasyaallah kak, selagi ada waktu ya kak.
DeleteLuangkan waktu untuk kedua orang tuamu sekalipun hanya menemani mereka bercerita. Ini pesan dari atasanku, yang aku pegang sampai sekarang. Masya allah, kak citra, the best
ReplyDelete